ONLINEBRITA.COM, MINUT- Upaya mempercepat penanganan wilayah rentan pangan di Kabupaten Minahasa Utara mulai diarahkan pada strategi yang lebih terintegrasi melalui SI PERINTIS MINUT, atau Strategi Inovatif Percepatan Intervensi Integratif Lintas Sektor untuk Wilayah Rentan Pangan di Kabupaten Minahasa Utara. Gagasan tersebut dipaparkan Kepala Dinas Pangan Kabupaten Minahasa Utara, Asriyadi Lalompoh, dalam Ujian Seminar Rancangan Proyek Perubahan (RPP) SI PERINTIS MINUT yang berlangsung di BPSDMD Sulawesi Utara, Jumat (4/9/2026).

Inovasi tersebut menargetkan Kabupaten Minahasa Utara tidak lagi memiliki desa rentan pangan pada 2028. Untuk mencapai sasaran itu, SI PERINTIS MINUT mengusung model Pentahelix, dengan melibatkan lima unsur dalam membangun pola kemitraan dan kolaborasi untuk menangani desa-desa yang masih menghadapi kerentanan pangan.
Seminar ini menjadi bagian dari proses pengembangan gagasan sekaligus pengujian rancangan perubahan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat. Melalui tahapan tersebut, konsep SI PERINTIS MINUT diharapkan semakin matang, terukur dan mampu diterapkan secara nyata.
Dalam pelaksanaan seminar, Asriyadi Lalompoh mendapat pendampingan dari sejumlah pejabat dan tenaga ahli yang memiliki peran dalam penyusunan hingga pelaksanaan rancangan proyek perubahan.
Dr. Joune J. E. Ganda, SE, MAP, MM, M.Si, selaku Bupati Minahasa Utara, bertindak sebagai Mentor. Sementara Drs. Jossy C. Kawengian, MAP, selaku Asisten III, dipercayakan sebagai Co-Mentor.
Posisi Coach dijalankan oleh Ir. Djuhardi N. Joroh, M.Si, sedangkan Penguji adalah Dr. Muhammad Aswad, M.Si, yang juga menjabat sebagai Kepala Pusjar SKMP LAN RI Makassar.
Pengembangan SI PERINTIS MINUT memiliki relevansi kuat dengan arah kebijakan pembangunan nasional. Dalam RAPBN 2027, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menetapkan delapan klaster Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN) sebagai fokus utama pembangunan dan penganggaran.
Delapan klaster tersebut terdiri atas:
1. Kedaulatan pangan;
2. Kemandirian energi dan air;
3. Pendidikan;
4. Kesehatan;
5. Hilirisasi dan industrialisasi;
6. Infrastruktur, perumahan dan ketahanan bencana;
7. Ekonomi kerakyatan dan desa; serta
8. Penurunan kemiskinan.

Kedaulatan pangan menjadi salah satu prioritas utama tersebut. Karena itu, penanganan desa rentan pangan melalui inovasi daerah seperti SI PERINTIS MINUT menjadi bagian strategis dalam mendorong ketahanan pangan sekaligus memperkuat kesejahteraan masyarakat.
Di tingkat provinsi, kebijakan tersebut juga memiliki keterkaitan dengan karakteristik Sulawesi Utara sebagai daerah kepulauan. Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE telah mengeluarkan delapan strategi kebijakan prioritas di wilayah kepulauan.
–Pertama, Sulawesi Utara merupakan daerah kepulauan yang sangat strategis. Sekitar 77,69 persen wilayah Sulut merupakan laut, dengan 382 pulau, termasuk 12 Pulau-Pulau Kecil Terluar, sehingga kebijakan pembangunan perlu berfokus pada karakteristik wilayah kepulauan.
-Kedua, memperhatikan islandness cost, yakni biaya yang muncul akibat karakteristik kepulauan.
-Ketiga, memperkuat konektivitas wilayah untuk semua akses masyarakat.
-Keempat, mengusulkan Dana Khusus Kepulauan (DKK) untuk pembangunan produktif.
-Kelima, memperkuat pengelolaan laut untuk menjaga integrasi tata ruang serta menghindari banyaknya rezim perizinan.
-Keenam, mengoptimalkan potensi ekonomi maritim Sulawesi Utara.
-Ketujuh, melakukan pengelolaan pulau-pulau terluar sebagai bagian dari kedaulatan negara sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
-Kedelapan, mendorong agar RUU Daerah Kepulauan menghasilkan afirmasi nyata bagi daerah kepulauan.
Karakteristik tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang dalam penanganan ketahanan pangan. Karena itu, intervensi terhadap desa rentan pangan membutuhkan pendekatan lintas sektor dan tidak dapat dilakukan hanya oleh satu perangkat daerah.
Sementara pada level kabupaten, Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara melalui Bupati Dr. Joune James Esau Ganda, SE, MAP., MM., M.Si menetapkan delapan rencana strategis yang menjadi program prioritas daerah.
–Pertama, pembangunan infrastruktur secara adil, melalui pemerataan akses dan perbaikan infrastruktur penunjang di seluruh wilayah.
-Kedua, penanggulangan kemiskinan, melalui program strategis untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem dan memperkuat jaring pengaman sosial.
-Ketiga, pembangunan pertanian dan perkebunan, dengan penguatan ketahanan pangan serta fasilitas penunjang sektor tani.
-Keempat, sektor perikanan, melalui optimalisasi potensi kelautan dan perikanan darat.
-Kelima, pariwisata dan ekonomi kreatif, melalui pengembangan destinasi dan penguatan daya tarik wisata, termasuk KSPN Likupang.
-Keenam, optimalisasi daya saing perekonomian daerah, melalui peningkatan produktivitas ekonomi lokal dan UMKM.
-Ketujuh, peningkatan daya saing investasi daerah, dengan membuka ruang investasi seluas-luasnya bagi pertumbuhan ekonomi baru.
-Kedelapan, peningkatan kualitas pembangunan manusia dan pendidikan, melalui peningkatan layanan dasar kesehatan dan mutu pendidikan.
Delapan prioritas tersebut memperlihatkan bahwa penanganan kerentanan pangan memiliki keterkaitan erat dengan berbagai sektor, mulai dari infrastruktur, kemiskinan, pertanian, perikanan, ekonomi masyarakat hingga pembangunan manusia.
Asriyadi Lalompoh menyampaikan, seminar RPP SI PERINTIS MINUT merupakan momentum penting untuk memperoleh masukan sekaligus memperkuat rancangan proyek perubahan yang telah disusun.

Menurutnya, inovasi pemerintahan harus mempunyai tujuan yang jelas dan tidak boleh berhenti pada konsep, tetapi harus mampu diterapkan dan memberikan dampak positif kepada masyarakat.
“Bagi saya, seminar ini merupakan bagian penting dalam proses menyempurnakan rancangan perubahan. Masukan dari mentor, co mentor, coach dan penguji menjadi bekal untuk memperkuat gagasan agar nantinya dapat diimplementasikan dengan baik dan memberikan manfaat nyata,” ujar Asriyadi.
Ia menegaskan bahwa perubahan dan inovasi merupakan kebutuhan dalam menghadapi dinamika pelayanan publik yang terus berkembang. Namun, inovasi tetap harus berpijak pada kebutuhan masyarakat dan nilai-nilai kemanusiaan.
“Kita harus mampu beradaptasi dengan perkembangan dan tuntutan zaman, tetapi jangan sampai kehilangan idealisme. Berinovasi juga harus tetap mengedepankan sisi kemanusiaan dan kebutuhan masyarakat. Keberhasilan bukan hanya soal pencapaian target, tetapi bagaimana perubahan tersebut benar-benar dirasakan manfaatnya,” tambahnya.
Menurut Asriyadi, SI PERINTIS MINUT diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun tata kelola pemerintahan yang semakin efektif, responsif dan berorientasi pada pelayanan, khususnya dalam mempercepat intervensi terhadap wilayah yang masih mengalami kerentanan pangan.
Dalam proses perubahan tersebut, ia juga mengutip pesan yang menjadi refleksi dalam membangun inovasi:
“Beradaptasi tanpa kehilangan idealisme, berinovasi tanpa kehilangan kemanusiaan, kejarlah keberhasilan tanpa melupakan pijakan.” — Pramono Anung
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan inovasi bukan hanya terletak pada pencapaian target, tetapi juga pada kemampuan menghadirkan perubahan yang tetap memperhatikan nilai kemanusiaan serta kebutuhan masyarakat.

Dengan model Pentahelix yang membangun pola kemitraan lintas unsur, SI PERINTIS MINUT diarahkan untuk memperkuat sinergi dalam menangani desa rentan pangan. Kolaborasi menjadi penting agar berbagai potensi dan sumber daya dapat digerakkan secara bersama-sama menuju sasaran yang telah ditetapkan.
Ujian Seminar RPP SI PERINTIS MINUT menjadi salah satu tahapan penting untuk menguji sekaligus mempertajam gagasan perubahan tersebut. Masukan dari mentor, co-mentor, coach dan penguji diharapkan dapat membuat rancangan semakin jelas, terukur dan realistis untuk diimplementasikan.
Target yang dibangun pun bukan sekadar menghadirkan sebuah inovasi birokrasi, tetapi menjadikan SI PERINTIS MINUT sebagai instrumen percepatan intervensi bagi masyarakat di wilayah rentan pangan.
Dengan dukungan kebijakan nasional, strategi pembangunan Sulawesi Utara sebagai daerah kepulauan serta delapan prioritas pembangunan Kabupaten Minahasa Utara, inovasi ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan dari tingkat daerah hingga desa.
Pada akhirnya, SI PERINTIS MINUT diharapkan bukan hanya menjadi sebuah rancangan proyek perubahan, tetapi menjadi gerakan bersama lintas sektor yang mampu membawa Minahasa Utara menuju target 2028: tidak ada lagi desa yang berstatus rentan pangan, sekaligus memastikan masyarakat mendapatkan akses pangan yang cukup, aman, berkelanjutan dan bermartabat.(*)







