Aktivis Lingkungan Ingatkan Tomohon: Jangan Biarkan ‘Dingin ba Ombong’ Tinggal Kenangan

Foto: Aktivis peduli lingkungan Hendro Lapong,—-pesona hutan gunung Masarang.

ONLINEBRITA.COM, TOMOHON –- Sejuknya udara Tomohon bukan sekadar soal cuaca. Bagi masyarakat, “Dingin ba Ombong” telah lama menjadi identitas yang tumbuh bersama pegunungan, hutan, sumber air, pertanian hingga florikultur.

Namun di tengah derasnya pembangunan dan geliat pariwisata, muncul satu pesan penting: jangan sampai kemajuan justru mengorbankan alam yang menjadi wajah Tomohon.

Pesan itu disampaikan Aktivis Peduli Lingkungan Kota Tomohon, Hendro Fredrik Lapong, saat ditemui dibilangan pusat kota Tomohon, Rabu (02/09/2026).

Ia mengajak Pemerintah dan masyarakat lebih serius menjaga kelestarian lingkungan serta membuka ruang kajian terhadap setiap rencana pembangunan yang berpotensi bersinggungan dengan kawasan ekologis.

“Mohon ini dapat dikaji bersama dan menjadi bagian dari kegiatan kita dalam menjaga alam tetap lestari dan berkelanjutan untuk anak cucu,” ujar Hendro.

Salah satu kawasan yang menjadi sorotan adalah Hutan Masarang. Menurut Hendro, kawasan hutan tersebut memiliki fungsi ekologis penting, terutama sebagai wilayah tangkapan air dan penyangga cadangan air bagi sebagian wilayah Tomohon hingga Tondano.

Bagi dia, hutan bukan sekadar hamparan pepohonan. Di balik tutupan hijau itu terdapat sistem ekologis yang ikut menjaga tata air, kelembaban serta keseimbangan lingkungan.

“Kalau kita cermati dengan jujur, siklus ekologis menegaskan bahwa kesejukan iklim Tomohon sangat bergantung pada tingkat kelembaban udara,” katanya.

Hendro menilai keberadaan hutan di kawasan pegunungan dan perbukitan menjadi bagian penting dalam mempertahankan keseimbangan lingkungan.

Berkurangnya tutupan hutan, kata dia, bukan hanya mengubah wajah alam, tetapi juga berpotensi mengganggu sistem ekologis dalam jangka panjang.

Sorotan kemudian mengarah pada pengembangan sektor pariwisata. Hendro menegaskan, kemajuan pariwisata harus berjalan beriringan dengan prinsip pelestarian lingkungan.

Ia tidak mempersoalkan ambisi menjadikan Tomohon sebagai destinasi wisata yang semakin dikenal. Peningkatan ekonomi, pembukaan lapangan kerja dan promosi daerah merupakan bagian penting dari pembangunan.

Tetapi, menurutnya, setiap pembangunan harus memperhitungkan daya dukung dan daya tampung lingkungan.

“Tomohon tidak boleh kehilangan identitas alaminya demi popularitas instan. Jangan sampai hanya karena ingin Tomohon semakin dikenal, fungsi hutan justru terancam,” tegasnya.

Hendro mengingatkan, pembangunan berkelanjutan tidak cukup hanya diukur dari jumlah wisatawan atau besarnya investasi. Lebih jauh, pembangunan harus memastikan alam tetap mampu menopang kehidupan masyarakat.

Sebab, dampak kerusakan lingkungan tidak selalu terlihat seketika. Persoalan ekologis bisa muncul setelah berlangsung dalam waktu panjang, terutama ketika fungsi kawasan hutan dan tata air mulai terganggu.

Karena itu, ia mendorong setiap konsep pembangunan pariwisata dikaji secara komprehensif dengan memperhatikan aspek ekonomi, sosial dan terutama keberlanjutan lingkungan.

“Menjaga daya dukung lingkungan adalah menjaga masa depan Tomohon,” tegas Hendro, yang juga dikenal sebagai Sekretaris DPD Bamagnas Kota Tomohon ini.

Ia menambahkan, ke depan Bamagnas Tomohon juga akan menggelar seminar bertajuk “Pertobatan Ekologis” sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga lingkungan.

Menurut Hendro, kelestarian hutan memiliki kaitan erat dengan keberlangsungan Tomohon sebagai kota agrikultur dan florikultur.

Lingkungan yang sehat merupakan fondasi kehidupan masyarakat sekaligus bagian dari karakter Tomohon sebagai ruang hidup.

Ia mengajak masyarakat tidak melihat pelestarian alam sebagai penghambat pembangunan. Sebaliknya, alam yang lestari harus ditempatkan sebagai modal utama pembangunan jangka panjang.

Hendro juga mendorong pemerintah membuka ruang kajian dan partisipasi publik yang lebih luas terhadap setiap program pembangunan yang berkaitan dengan kawasan alam.

Dengan demikian, manfaat, risiko dan dampaknya dapat diketahui secara terbuka sejak awal.

Sebab, yang perlu dijaga bukan hanya hutan. Air, udara sejuk, pertanian, florikultur, keanekaragaman hayati dan identitas Tomohon merupakan warisan yang harus diselamatkan untuk generasi mendatang.

“Jangan sampai ‘Dingin ba Ombong’ hanya tinggal kenangan. Mari jaga alam Tomohon agar tetap lestari dan berkelanjutan. Stop normalisasi perusakan hutan,” pungkasnya.(*/jop)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *