Ancaman Karhutla Mengintai! Tiga Jalur Pendakian Gunung Lokon, Empung, Mahawu Ditutup!

Foto: Gunung Ikonik Tomohon Lokon, Empung dan Mahawu—, Kepala Pelaksana BPBD Kota Tomohon Hengky Supit.

ONLINEBRITA.COM, TOMOHON — Kabar kurang sedap bagi para pendaki dan pencinta alam. Aktivitas pendakian di tiga gunung yang menjadi ikon wisata alam Kota Tomohon, yakni Gunung Lokon, Gunung Empung dan Gunung Mahawu, untuk sementara ditutup dan dibatasi.

Kebijakan tersebut bukan tanpa alasan. Pemerintah Daerah mengambil langkah antisipasi menyusul meningkatnya potensi bahaya bencana pada musim kemarau, khususnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Penutupan jalur pendakian dilakukan dengan memperhatikan rekomendasi teknis BKSDA Sulawesi Utara dan Pos Pengamatan Gunung Api PVMBG, serta arahan Menteri Dalam Negeri dan Gubernur Sulawesi Utara terkait pencegahan dan penanggulangan karhutla.

Untuk Gunung Lokon, kewaspadaan menjadi perhatian utama. Gunung api tersebut saat ini berstatus Level II (Waspada). Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 1,5 kilometer dari Kawah Tompaluan, sesuai rekomendasi PVMBG.

Sementara Gunung Empung, meski bukan gunung api aktif tersendiri, berada dalam kawasan Cagar Alam Lokon-Empung dan secara geografis berdekatan dengan Kawah Tompaluan. Karena itu, aktivitas di kawasan tersebut tetap harus mengikuti ketentuan konservasi dan batas keselamatan yang berlaku.

Berbeda dengan Lokon, Gunung Mahawu saat ini berstatus Level I (Normal). Namun, kawasan tersebut merupakan hutan lindung yang tetap harus dijaga. Apalagi kondisi musim kemarau membuat potensi kebakaran hutan dan lahan meningkat.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Tomohon, H.Y. Supit, mengajak masyarakat, khususnya pendaki, pemandu wisata dan komunitas pencinta alam, untuk sementara menahan diri dan mendukung kebijakan tersebut.

“Menutup jalur pendakian bukan berarti menghentikan kecintaan kita kepada alam. Justru dengan menahan diri, mematuhi ketentuan dan menjaga kawasan, kita sedang menunjukkan bahwa mencintai alam berarti juga menghormati keselamatan dan kelestariannya,” ujarnya.

BPBD bersama pemerintah kelurahan dan kecamatan juga telah memasang sejumlah baliho peringatan sebagai bentuk sosialisasi kepada masyarakat. Para pencinta alam, pemandu wisata dan warga sekitar diminta ikut menyebarluaskan informasi terkait penutupan tersebut.

“Penutupan ini kami yakin tidak akan permanen. Kami berharap kondisi segera kembali normal. Jika jalur pendakian sudah dinyatakan aman, tentu akan kami umumkan kembali pembukaannya,” tegas Supit.

Pemerintah berharap seluruh pihak tidak memaksakan aktivitas pendakian selama kebijakan berlaku. Sebab, di tengah musim kemarau, satu kelalaian kecil bisa berubah menjadi ancaman besar bagi keselamatan manusia dan kelestarian kawasan hutan.

Keselamatan jiwa adalah prioritas. Kelestarian alam adalah tanggung jawab bersama.(*/jop)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *