ONLINEBRITA.COM, MANADO – Pimpinan Indonesia Morowali Industrial Park Ancensius Tombo Bamba selaku HR PT IMIP (people & Organisation Develpoment Head Site Morowali mengakui, saat ini pihaknya sangat membutuhkan sebanyak 300 tenega kerja untuk dipekerjakan di perusshaan IMIP. ” Makahya kami datang kr Polimdo untuk merekrut mahasiswa yahg sudah lulus” ujarnya kepada Wartawan usai MoU dengan Polimdo.
Sebagai langkah konkrit, pihaknya membawa sejumlah tenaga untuk melakukan wawancara langsung kepada para.mahasiswa. ” Barkot dan link pendaftaran sudzh kami sediakan. Mudah-mudahan banyak mahasiswa yang lulus, ujar menambahkan seraya menambahksn bahwa hal serupa sudah kami lakukan di Palu dan .Makasar.
Sementata itu , direktur Politeknik Negeri Manado (Polimdo), Dra. Mareyke Alelo, MBA, memberikan sambutan yang menyita perhatian dan penuh warna saat membuka acara rekrutmen bersama perwakilan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di kampus Polimdo, Senin (2/11).
Di hadapan ratusan mahasiswa dan pimpinan IMIP, Mareyke tidak hanya berbicara soal teknis pekerjaan, tetapi juga melontarkan analisis sosial yang tajam mengenai dominasi talenta Indonesia Timur serta kritik pedas terhadap mentalitas Generasi Z.

Mareyke menyandingkan fenomena dominasi talenta dari Indonesia Timur di sektor industri strategis dengan sejarah kabinet era Orde Baru. Ia menyebut adanya pergeseran kekuatan talenta yang kini dikuasai oleh putra-putra daerah.
“Dulu zaman Pak Harto, ada kabinet yang dinamakan Mafia Berkeley, para menterinya dari Berkeley University dan prestasinya bagus. Nah, hari ini saya melihat ada ‘Mafia IMIP’. Yaitu Manado, Makassar, Maluku, Morowali. Dikuasai oleh MM,” ujar Mareyke yang disambut antusias hadirin.

Pernyataan ini menegaskan bahwa talenta dari Indonesia Timur kini memiliki peran vital dan dominasi yang kuat dalam menggerakkan roda industri nasional, khususnya di kawasan seperti Morowali dan Weda.
Namun, di tengah apresiasi terhadap potensi SDM, Mareyke juga melontarkan kritik keras terkait etos kerja. Ia menyayangkan masih adanya fenomena victim mentality atau mentalitas korban yang melekat pada sebagian mahasiswa.
“Banyak dari Gen Z ini lebih menempatkan dirinya sebagai korban. Mengeluh pemerintah ini dan itu, padahal semua salah kecuali dirinya sendiri. Padahal, bangsa lain yang minim sumber daya bisa maju karena etos kerja dan kerajinannya patut dicontohi,” tegasnya.
Ia mendorong mahasiswa untuk memiliki vitalitas dan ketangguhan, tidak hanya mengandalkan kekayaan alam, tetapi juga kerja keras yang nyata.
Menjelang sesi wawancara, suasana menjadi lebih cair saat Mareyke memberikan panduan praktis yang unik. Ia menekankan pentingnya personal branding yang jelas dan portofolio yang valid.
“Namamu siapa? Sebutkan lengkap. Apa hobinya, apa keahliannya, sampaikan lengkap. Jangan dicicil-cicil informasinya, nanti yang mewawancarai kecapekan mengejar Anda,” candanya.
Mareyke juga mengimbau mahasiswa membawa bukti fisik karya. “Tunjukkan bukti: ‘Ini prototype yang pernah saya buat’. Kalau bisa bawa hasil proyeknya, itu lebih bagus supaya pewawancara yakin Anda tidak ngarang,” tambahnya.
Tak lupa, ia memberikan tips penampilan yang relate dengan kehidupan kos-kosan. “Rambut dirapikan, jangan ada tahi mata, jangan ada sisa makanan di gigi. Kalau baju bau apek karena tidak kering, pinjam parfum atau ‘rabu-rabu’ teman sekamar. Jangan sampai pewawancara berpikir, ‘Anak ini ngurus perusahaan saja tidak bisa, ngurus diri sendiri tidak becus’,” pesannya disambut tawa mahasiswa.
Acara ini ditutup dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Polimdo dan PT IMIP, menandai komitmen serius dalam penyerapan tenaga kerja.
Mengakhiri sambutannya, Mareyke menagih komitmen kolaborasi ke depan, khususnya terkait pelatihan soft skills. “Politeknik dirancang untuk memenuhi kebutuhan hard skills. Namun, ke depan kami mohon IMIP bisa berbagi ilmu mengenai soft skills, seperti komunikasi dan pengambilan keputusan. Ini penting agar lulusan vokasi kita tidak masuk dalam statistik pengangguran terdidik,” tutupnya.
Acara ini diharapkan menjadi batu loncatan bagi lulusan Polimdo untuk bersaing di kancah industri nasional, sekaligus membuktikan bahwa talenta Indonesia Timur siap memimpin perubahan.(*)







