Foto: Sosok Srikandi Toar-Lumimuut, Ellen Runtuwene.
ONLINEBRITA.COM, MINAHASA — Sebuah nama keluarga kadang menyimpan cerita yang jauh lebih panjang dari pada sekadar identitas, begitu pula dengan Runtuwene.
Di balik fam yang banyak ditemui di Tanah Minahasa itu, tersimpan kisah tentang leluhur, wilayah walak dan tokoh-tokoh yang disebut pernah memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Minahasa pada masa lampau.
Kisah tersebut dituturkan Ellen Runtuwene, yang mencoba membuka kembali cerita mengenai asal-usul dan perjalanan fam keluarganya.
Menurut Ellen, untuk memahami sejarah Runtuwene, terlebih dahulu harus memahami bagaimana masyarakat Minahasa pada masa lalu mengatur kehidupan komunitasnya.
Minahasa tidak mengenal sistem kerajaan dengan pola raja seperti yang berkembang di sejumlah daerah lain di Nusantara.
Dalam struktur tradisionalnya dikenal istilah walak, sebuah kesatuan wilayah dan masyarakat yang memiliki pemimpin sendiri.
Para pemimpin lokal itu dikenal dengan berbagai sebutan, antara lain Ukung, Tonaas, Hukum Besar dan, dalam perkembangan pemerintahan kolonial, Majoor.
Dalam penuturannya, Ellen kemudian membawa cerita kepada sosok yang disebut sebagai Ukung Runtuwene, yang dikaitkan dengan kepemimpinan di Walak Tombasian.
Menurut kisah yang disampaikannya, wilayah Tombasian pada masa itu cukup luas, mencakup kawasan yang kini berada di sekitar Kawangkoan hingga wilayah pesisir Amurang.
Nama Ukung Runtuwene, lanjut Ellen, menjadi salah satu bagian penting dalam cerita leluhur keluarga Runtuwene.
Ia juga mengisahkan bagaimana tokoh tersebut disebut memiliki pengaruh dan kewibawaan yang cukup kuat di tengah masyarakat pada zamannya.
Salah satu cerita yang melekat adalah keterkaitannya dengan sikap para pemimpin Minahasa menghadapi kebijakan pemerintahan kolonial pada masa Gubernur Jenderal Daendels, terutama mengenai rencana pengerahan pemuda Minahasa untuk kepentingan perang di Jawa.
Kisah itu, dalam penuturan Ellen, menjadi bagian dari perjalanan leluhur Runtuwene yang kemudian diwariskan sebagai cerita keluarga.
Sejumlah catatan sejarah lokal juga mencantumkan nama Runtuwene dalam struktur kepemimpinan Walak Tombasian.
Karena itu, kisah yang dituturkan Ellen menjadi menarik untuk ditempatkan dalam konteks sejarah lokal Minahasa, sembari tetap membedakan antara tradisi lisan keluarga dan catatan sejarah tertulis.
Cerita Ellen kemudian berlanjut ke Rumoong.
Di wilayah ini, menurut penuturannya, nama Runtuwene juga memiliki jejak dalam struktur kepemimpinan masyarakat setempat.
Salah satu nama yang disebut adalah Manuel Runtuwene. Dalam cerita yang disampaikan Ellen, keberadaan Manuel dan tokoh-tokoh Runtuwene lainnya di Rumoong memperlihatkan bahwa keluarga tersebut memiliki perjalanan panjang dalam struktur sosial masyarakat Minahasa.
Catatan sejarah yang tersedia juga mencatat nama Manuel Runtuwene dalam struktur pemerintahan lokal pada masa kolonial.
Dari sinilah muncul cerita mengenai beberapa generasi Runtuwene yang pernah berada dalam posisi kepemimpinan lokal.
Namun, Ellen tidak sekadar ingin berbicara mengenai jabatan atau kedudukan leluhur.
Lebih jauh, ia ingin menunjukkan bagaimana sebuah fam menyimpan ingatan tentang perjalanan keluarga dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bukan Sekadar Soal “Bangsawan”
Dalam kisahnya, Ellen juga menyentuh soal penyebutan Runtuwene sebagai keluarga tua atau keluarga yang pernah memiliki posisi penting.
Namun, istilah seperti “bangsawan” atau “dinasti” perlu dipahami dalam konteks Minahasa.
Sebab, struktur sosial Minahasa memiliki perjalanan sejarah yang berbeda dengan sistem kerajaan di Jawa atau daerah lain.
Karena itu, cerita tentang Runtuwene lebih tepat dibaca sebagai kisah mengenai fam yang memiliki jejak kepemimpinan lokal, berdasarkan penuturan keluarga dan catatan sejarah yang ada.
Di sinilah kisah Ellen menjadi menarik.
Ia tidak hanya sedang menceritakan sebuah nama, tetapi sedang membuka kembali bagian dari memori keluarga yang selama ini diwariskan melalui cerita.
Runtuwene dan Makna “Mengucap Syukur”
Ada satu bagian lain yang tak kalah menarik dari penuturan Ellen.
Menurutnya, dalam literatur mengenai fam Minahasa, Runtuwene dikaitkan dengan makna “mengucap syukur.”
Makna tersebut seolah memberi warna tersendiri bagi perjalanan nama keluarga ini.
Sebab, sebuah fam tidak hanya berbicara tentang siapa leluhurnya.
Fam juga menjadi tanda identitas, ikatan keluarga dan pengingat tentang perjalanan generasi sebelumnya.
Bagi Ellen, kisah tentang Runtuwene menjadi bagian dari upaya untuk mengenal kembali akar keluarga.
Dari Tombasian hingga Rumoong. Dari cerita tentang Ukung hingga nama-nama yang muncul dalam struktur kepemimpinan lokal.
Semua itu menjadi kepingan-kepingan yang membentuk satu cerita besar tentang sebuah fam di Tanah Minahasa.
Dan mungkin, di situlah makna sesungguhnya dari sebuah nama keluarga.
Bukan untuk membanggakan masa lalu semata, tetapi untuk memahami dari mana kita berasal.
Sebab sejarah, seperti dituturkan Ellen Runtuwene, bukan hanya tersimpan dalam buku-buku tua.
Sebagian masih hidup dalam ingatan keluarga, diceritakan dari mulut ke mulut, diwariskan dari generasi ke generasi, lalu kembali dibuka ketika seseorang bertanya:
“Dari mana sebenarnya nama Runtuwene berasal?” (*/jop)













