
ONLINEBRITA.COM, GUUAN – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Utara, Dr. Drs. H. Ulyas Taha, M.Pd, menjadi narasumber pada Konferensi VIII dan Pertemuan Raya Kaum Bapak Katolik (KBK) Keuskupan Manado yang berlangsung di Goba, Molinouw, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Rabu (1/7/2026). Dalam forum yang dihadiri ratusan peserta dari wilayah Keuskupan Manado tersebut, Ulyas membawakan materi bertajuk “Moderasi Beragama dan Cinta Kemanusiaan.”
Turut hadir dalam kegiatan ini Uskup Manado Mgr. Benedictus Estephanus Rolly Untu, MSC, jajaran panitia, serta para peserta Konferensi VIII dan Pertemuan Raya KBK yang dihadiri 11 ribu peserta berasal dari se-Keuskupan Manado dari Kevikepan yang tersebar di provinsi Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tengah.

Dalam pemaparannya, Ulyas menegaskan bahwa pertemuan KBK bukan sekadar agenda internal Gereja, melainkan momentum strategis untuk memperkuat persaudaraan universal dan membangun komitmen bersama dalam menjaga kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk. Menurutnya, cinta kemanusiaan merupakan titik temu yang menyatukan seluruh umat beragama dalam semangat melayani sesama.
Ia menjelaskan bahwa moderasi beragama bukan berarti mengurangi keyakinan atau mencampuradukkan ajaran agama, tetapi merupakan cara pandang dan praktik beragama yang mengedepankan penghormatan terhadap martabat manusia serta kemaslahatan bersama. Karena itu, setiap pemeluk agama dipanggil untuk menjadi pembawa damai di tengah kehidupan bermasyarakat.
Mengangkat perspektif Islam dan Katolik, Ulyas menunjukkan bahwa kedua tradisi sama-sama menempatkan kasih, keadilan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap martabat manusia sebagai nilai luhur. Ia mengutip konsep Ukhuwah Basyariyah dalam Islam dan semangat Fratelli Tutti yang digagas Paus Fransiskus sebagai landasan kuat untuk membangun dialog, kerja sama, dan persaudaraan lintas iman.

“Kita tidak dipanggil untuk menyeragamkan keyakinan, tetapi dipanggil untuk memperkuat kerja sama dalam aksi-aksi kemanusiaan. Cinta kepada sesama adalah bahasa universal yang dipahami oleh semua orang,” ungkapnya.
Di hadapan para Kaum Bapak Katolik, Ulyas juga mengajak keluarga menjadi ruang pertama dalam menanamkan nilai moderasi beragama. Menurutnya, keteladanan orang tua, pergaulan yang inklusif, serta literasi digital yang baik merupakan benteng penting agar generasi muda tidak mudah terpengaruh oleh radikalisme, ujaran kebencian, maupun polarisasi di media sosial.
Ia turut memaparkan kondisi kerukunan di Sulawesi Utara yang selama ini dikenal sebagai laboratorium toleransi. Filosofi “Torang Samua Basudara” dan nilai “Si Tou Timou Tumou Tou” dinilai menjadi fondasi kokoh yang menjaga harmoni kehidupan masyarakat. Capaian Indeks Kerukunan Umat Beragama Sulawesi Utara yang tinggi menjadi bukti bahwa budaya saling menghormati terus tumbuh di Bumi Nyiur Melambai.
Pada kesempatan tersebut, Ulyas juga memperkenalkan lima langkah sederhana menjadi Duta Damai, yakni menyaring informasi sebelum membagikannya, hadir membantu sesama tanpa membedakan agama dan suku, mengedepankan dialog daripada prasangka, menyebarkan narasi kasih, serta membangun kolaborasi lintas batas demi kesejahteraan masyarakat.
Menutup materinya, Ulyas menegaskan bahwa moderasi beragama pada hakikatnya adalah jalan untuk memperdalam cinta kemanusiaan sebagai wujud nyata keimanan.
“Moderasi Beragama bukanlah upaya mendangkalkan akidah, melainkan upaya memperdalam cinta kemanusiaan sebagai perwujudan iman yang sejati. Mari kita jaga Sulawesi Utara tetap menjadi rumah bersama yang rukun, damai, dan penuh persaudaraan,” tutupnya. (*)













